Showing posts with label Feedback. Show all posts
Showing posts with label Feedback. Show all posts

Jebakan group think bagi pemimpin


Kalau anggota tim Anda selalu setuju dengan ide-ide Anda, bahkan dengan sangat mudah mendukung, berhati-hatilah. Jangan-jangan tim Anda terjebak pada group think.

Agar para givers tidak kabur

Kita semua menginginkan rekan kerja yang ringan tangan. Yang mudah membantu saat ada kesulitan atau beban perkerjaan yang terlalu besar untuk ditangani sendiri.  Tapi, tahukah Anda bahwa bila tidak diperlakukan dengan benar, rekan yang ringan tangan itu bisa kehabisan tenaga, mutung bahkan cabut dari pekerjaannya?

Pribadi yang terbuka bagi feedback

Kalau Anda sering memberi feedback pada rekan atau tim Anda, maka itu bagus karena akan membantu mereka mengembangkan diri. Tapi, jangan lupa, Anda pun harus menerima feedback dari mereka, demi kemajuan profesional Anda sendiri.

Agar feedback tidak backfire


Feedback itu esensial bagi perbaikan kinerja seseorang. Bila kita tidak menerima feedback, maka kita tidak tahu apa yang perlu diperbaiki dan dipertahankan dari diri kita.

Tapi, feedback juga bisa backfire alias menjadi bumerang. Bukannya mendorong perbaikan kinerja, tidak jarang, feedback memicu perang dingin, perpecahan sampai pertengkaran. Biasanya, pangkal masalahnya terletak pada cara memberi feedback.

Agar tidak menjadi bumerang, tapi justru meningkatkan kinerja seseorang, berikut adalah hal yang perlu diperhatikan dalam memberi feedback.

1. Jangan judgemental, yang deskriptif saja
Jangan menggunakan kata-kata menghakimi. Jangan masukkan penilaian Anda. Sebaliknya, sebisa mungkin gambarkan sesuai fakta. Penggunaan kata-kata yang menghakimi atau evaluatif akan menyinggung perasaan dan memicu penolakkan.

"Kamu bener-bener malas, kerjamu payah!" Ini adalah contoh feedback yang judgemental. Kata malas atau payah adalah kata-kata yang menghakimi dan penuh penilaian.

"Saudara sering datang tidak tepat waktu. Saya pelajari 80% Saudara datang 30 menit sesudah waktu masuk. Penjualan Saudara juga tidak memenuhi target. Ditargetkan 100 untuk tahun ini, sejauh ini Saudara mencapai 50 atau separuhnya."

2. Apresiatif, jangan defisit melulu
Mencari kekurangan orang itu mudah. Yang lebih sulit adalah mencari kelebihannya. Masalahnya, kalau kita hanya memberi tahu apa kekurangannya, maka orang tidak akan termotivasi. Kebanyakan orang termotivasi untuk semakin memperbaiki diri karena diangkat kelebihannya. Jadi, bersikaplah seimbang, kemukakan kekurangan yang Anda pikir perlu diperbaiki namun dengan cukup proporsional, kemukakan pula kelebihannya.

"Saya lihat Anda paling banyak menggunakan dana entertain. Dalam enam bulan pertama, dana untuk itu di tim Anda sudah habis. Saya pikir ke depan perlu diefisienkan. Saya juga lihat dalam dua bulan terakhir Tim Anda paling banyak mendapat orderan. Saya kita ini bagus sekali untuk dipertahankan."


3. Spesifik  
Kita perlu menyampaikan feedback yang spesifik agar rekan atau tim kita tahu, apa yang perlu dipertahankan atau apa yang perlu diperbaiki. 

"Negosiasi kalian tadi itu bagus sekali." Ini adalah contoh feedback yang terlalu umum. Apanya yang bagus? Kalau Anda menilai sebaliknya, kurang bagus, maka apanya yang kurang bagus?

"Waktu negosiasi tadi, kalian singgung sejerah kerjasama tim kita dengan tim mereka, yang penuh perjuangan. Itu poin bagus banget!"

Di atas contoh feedback yang lebih spesifik karena mengangkat satu aspek dari proses negosiasi yang mereka lakukan. 

Nah, di atas adalah tiga panduan dasar untuk memberi feedback agar tidak backfire. Ingat, berikan feedback pada rekan atau tim agar mereka memperbaiki diri. Tapi, jangan lupa membuka diri untuk feedback dari mereka. 

Bagus, tapi....

Seringkah Anda memberi feedback pada rekan atau tim Anda dengan rumusan: bagus, tapi...?

"Produknya punya durability yang bagus, tapi...kurang menjual."
"Presentasinya sudah bagus, tapi tampaknya tidak sesuai dengan harapan klien."

"Idenya kreatif, tapi tidak efisien."

Mengangkat aspek-aspek positif dulu, lalu diakhiri dengan menyebut kekurangan. 


Jika tujuannya adalah untuk memperbaiki performa rekan kita, maka rumusan bagus, tapi...acap kali kontraproduktif. 


Yang menyampaikan feedback mungkin tidak bermaksud buruk, mungkin hanya karena kebiasaan, tapi rumusan semacam itu dapat membuat si penerima merasa tidak nyaman, bahkan tak jarang, sakit hati. Kata orang, diangkat tinggi, lalu (dari ketinggian) dijatuhkan. Duh, sakitnya tuh di sini....


Salah satu alasan orang menggunakan rumusan bagus, tapi...adalah karena dia ingin menyampaikan feedback secara komplit. Ada gambaran tentang kekuatan sekaligus kekurangannya. Kalau memang demikian, ada baiknya rumusannya diperbaiki menjadi sebagai berikut.

1. Hilangkan kata hubung tapi. Sampaikan kelebihan dan kekurangan secara setara.


"Ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, saya menilai idenya kreatif. Setahu saya, belum ada perusahaan yang membuat produk semacam itu. Kedua, yang perlu diperbaiki adalah aspek efisiensi, sehingga feasible untuk diproduksi."


2. Kalau pun ingin menggunakan kata tapi, baiknya rumusannya dibalik, yang kurang adalah...tapi, ....sudah bagus.

"Sejauh ini saya amati produk kita kurang menjual, tapi saya mendapat info dari pelanggan, durability-nya jauh lebih bagus dibandingkan kompetitor kita."
 

Isinya tidak berubah. Poin-poinnya sama saja. Hanya masalah pengemasan. Dan yang terpenting, penerima lebih terbuka untuk menerima feedback kita.

Risang Rimbatmaja
IPC Facilitator

Kesempatan EMAS saat karyawan membawa anak ke kantor

Sehabis hari raya, tidak sedikit karyawan membawa anaknya ke kantor. Apakah Anda pernah merasa kesal dengan itu? Wah, jangan.  Saya tida...

Yang paling sering disimak